Kamis, 04 Oktober 2012

keutamaan menghafal al qur'an


Keutamaan Menghapal Al Quran.

Banyak hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghapal Al Quran, atau
membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong dari
sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Abbas secara marfu`:
“Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh
yang mauh runtuh “4.
Dan Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yang
mempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghapalnya, memberitahukan
kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.
Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang
terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana
hapalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah
SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hapal, hai pulan?” ia menjawab: aku
telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali
bertanya: “Apakah engkau hapal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah
SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang
dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan
menghapal surah Al Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya.
Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Pelajarilah Al Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al
Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan
minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang
mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran— adalah
seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik “5.
Jika tadi kedudukan pada saat hidup, maka saat mati-pun, Rasulullah SAW
mendahulukan orang yang menghapal lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya,
seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud.
Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah para penghapal Al Quran dari
kalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya,
karena dengan hapalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Di antara
sahabat itu adalah: tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang
terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata:
Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah
(kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang
itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku,
ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu:
bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari
setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “6.
Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghapal dan ahli Al Quran
saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan
sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran.
Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka
dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari,
kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di
5 Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta
oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaan
2126), dan dalam sanadnya ada `Atha, Maula Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpercaya kecuali oleh Ibnu
Hibban.
6 Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia
menilainya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi (1/553).
dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian
berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” 7.
Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan Tuhan, karena keduanya berjasa
mengarahkan anaknya untuk menghapal dan mempelajari Al Quran semenjak kecil. Dan
dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak
mereka untuk menghapal Al Quran semenjak kecil.
Ibnu Mas`ud berkata:
“Rumah yang paling kosong dan lengang adalah rumah yang tidak mengandung
sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ”8.
Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan
berkah.
Al Munziri meriwayatkan dalam kitab At Targhib wa At Tarhib dengan kata:
“ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang paling
hina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.1. Keutamaan Menghapal Al Quran.
Banyak hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghapal Al Quran, atau
membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong dari
sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Abbas secara marfu`:
“Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh
yang mauh runtuh “4.
Dan Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yang
mempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghapalnya, memberitahukan
kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.
Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang
terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana
hapalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah
SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hapal, hai pulan?” ia menjawab: aku
telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali
bertanya: “Apakah engkau hapal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah
SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang
dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan
menghapal surah Al Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya.
Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Pelajarilah Al Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al
Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan
minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang
mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran— adalah
seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik “5.
Jika tadi kedudukan pada saat hidup, maka saat mati-pun, Rasulullah SAW
mendahulukan orang yang menghapal lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya,
seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud.
Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah para penghapal Al Quran dari
kalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya,
karena dengan hapalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Di antara
sahabat itu adalah: tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang
terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata:
Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah
(kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang
itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku,
ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu:
bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari
setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “6.
Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghapal dan ahli Al Quran
saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan
sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran.
Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka
dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari,
kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di
5 Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta
oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaan
2126), dan dalam sanadnya ada `Atha, Maula Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpercaya kecuali oleh Ibnu
Hibban.
6 Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia
menilainya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi (1/553).
dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian
berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” 7.
Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan Tuhan, karena keduanya berjasa
mengarahkan anaknya untuk menghapal dan mempelajari Al Quran semenjak kecil. Dan
dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak
mereka untuk menghapal Al Quran semenjak kecil.
Ibnu Mas`ud berkata:
“Rumah yang paling kosong dan lengang adalah rumah yang tidak mengandung
sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ”8.
Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan
berkah.
Al Munziri meriwayatkan dalam kitab At Targhib wa At Tarhib dengan kata:
“ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang paling
hina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.1. Keutamaan Menghapal Al Quran.
Banyak hadits Rasulullah SAW yang mendorong untuk menghapal Al Quran, atau
membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu Muslim tidak kosong dari
sesuatu bagian dari kitab Allah SWT. Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu
Abbas secara marfu`:
“Orang yang tidak mempunyai hapalan Al Quran sedikitpun adalah seperti rumah kumuh
yang mauh runtuh “4.
Dan Rasulullah SAW memberikan penghormatan kepada orang-orang yang
mempunyai keahlian dalam membaca Al Quran dan menghapalnya, memberitahukan
kedudukan mereka, serta mengedepankan mereka dibandingkan orang lain.
Dari Abi Hurarirah r.a. ia berkata: Rasulullah SAW mengutus satu utusan yang
terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah SAW mengecek kemampuan membaca dan hapalan Al Quran mereka: setiap laki-laki dari mereka ditanyakan sejauh mana
hapalan Al Quran-nya. Kemudian seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah
SAW : “Berapa banyak Al Quran yang telah engkau hapal, hai pulan?” ia menjawab: aku
telah hapal surah ini dan surah ini, serta surah Al Baqarah. Rasulullah SAW kembali
bertanya: “Apakah engkau hapal surah Al Baqarah?” Ia menjawab: Betul. Rasulullah
SAW bersabda: “Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”. Salah seorang
dari kalangan mereka yang terhormat berkata: Demi Allah, aku tidak mempelajari dan
menghapal surah Al Baqarah semata karena aku takut tidak dapat menjalankan isinya.
Mendengar komentar itu, Rasulullah SAW bersabda:
“Pelajarilah Al Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang yang mempelajari Al
Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan
minyak misik, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang
mempelajarinya kemudia ia tidur –dan dalam dirinya terdapat hapalan Al Quran— adalah
seperti tempat bekal perjalanan yang disambungkan dengan minyak misik “5.
Jika tadi kedudukan pada saat hidup, maka saat mati-pun, Rasulullah SAW
mendahulukan orang yang menghapal lebih banyak dari yang lainnya dalam kuburnya,
seperti terjadi dalam mengurus syuhada perang Uhud.
Rasulullah SAW mengutus kepada kabilah-kabilah para penghapal Al Quran dari
kalangan sahabat beliau, untuk mengajarkan mereka faridhah Islam dan akhlaknya,
karena dengan hapalan mereka itu, mereka lebih mampu menjalankan tugas itu. Di antara
sahabat itu adalah: tujuh puluh orang yang syahid dalam kejadian Bi`ru Ma`unah yang
terkenal dalam sejarah. Mereka telah dikhianati oleh orang-orang musyrik.
Dari Abi Hurairah r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Penghapal Al Quran akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Quran akan berkata:
Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah
(kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang
itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku,
ridhailah dia, maka Allah SWT meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu:
bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah SWT menambahkan dari
setiap ayat yang dibacanya tambahan ni`mat dan kebaikan “6.
Balasan Allah SWT di akhirat tidak hanya bagi para penghapal dan ahli Al Quran
saja, namun cahayanya juga menyentuh kedua orang tuanya, dan ia dapat memberikan
sebagian cahaya itu kepadanya dengan berkah Al Quran.
Dari Buraidah ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:
“Siapa yang membaca Al Quran, mempelajarinya dan mengamalkannya, maka
dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari,
kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di
5 Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2879), dan lafazh itu darinya. Serta
oleh Ibnu Majah secara ringkas (217), Ibnu Khuzaimah (1509), Ibnu Hibban dalam sahihnya (Al Ihsaan
2126), dan dalam sanadnya ada `Atha, Maula Abi Ahmad, yang tidak dinilai terpercaya kecuali oleh Ibnu
Hibban.
6 Hadits diriwayatkan oleh Tirmizi dan ia menilainya hadits hasan (2916), Ibnu Khuzaimah, al hakim, ia
menilainya hadits sahih, serta disetujui oleh Adz Dzahabi (1/553).
dunia, keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini: dijawab: “karena kalian
berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari Al Quran” 7.
Kedua orang itu mendapatkan kemuliaan Tuhan, karena keduanya berjasa
mengarahkan anaknya untuk menghapal dan mempelajari Al Quran semenjak kecil. Dan
dalam hadits terdapat dorongan bagi para bapak dan ibu untuk mengarahkan anak-anak
mereka untuk menghapal Al Quran semenjak kecil.
Ibnu Mas`ud berkata:
“Rumah yang paling kosong dan lengang adalah rumah yang tidak mengandung
sedikitpun bagian dari Kitab Allah SWT ”8.
Dan pengertian kata “ashfaruha” adalah: yang paling kosong dari kebaikan dan
berkah.
Al Munziri meriwayatkan dalam kitab At Targhib wa At Tarhib dengan kata:
“ashghar al buyut” dengan ghain bukan fa. Dan maknanya adalah: rumah yang paling
hina kedudukannya, dan paling rendah nilainya.

media radio


MEDIA DALAM PENGAJARAN ISTIMA’ “RADIO”
Oleh: Nasirotul Alawiyyah dan Nur’Azizah
I.     PENDAHULUAN
Hampir setiap pendidik mungkin pernah menemukan suasana kelas yang tidak kondusif untuk proses pembelajaran. Para peserta didik tidak merespon apa yang pendidik bawakan dan pendidik merasa kurang efektif berbicara di depan peserta didik karena pesrta didik tidak memperhatikan pendidik, ramai sendiri, main komputer dan kelas berubah menjadi gaduh. Jelas suasana begitu tidak akan mencapai tujuan pembelajaran seperti yang direncanakan. Kami pernah juga merasakannya. Rugi rasanya berbicara terus dalam Bahasa Arab, sedangkan mereka diam mendengarkan tetapi tidak memahami apa yang dibicarakan pendidik.
Maka dari itu, pendidik harus jeli menyikapi permasalahan yang sedang dialami oleh peserta didik, yaitu kejenuhan dan kesan monoton. Karena itu, pendidik harus mencari formula yang efektif dan inovatif untuk membangkitkan motifasi siswa dalam belajar berbahasa Arab. Adapun salah satu yang membangkitkan motifasi belajar peserta didik tersebut bisa dilakukan pendidik dengan melalui media, dan media tersebut yaitu media radio dalam pembelajaran istima’.
Melihat dari pemeparan tersebut sehingga dalam penulisan makalah ini kami memunculkan beberapa pokok permasalahan: pertama, pengertian radio. Kedua, keistimewaan radio. Ketiga, kekurangan radio. Keempat, prosedur yang disarankan dalam menngunakan radio. Dan kelima, fungsi radio.
II.  PEMBAHASAN

A.     Pengertian Radio
            Radio menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah siaran (pengiriman) suara atau bunyi melalui udara.[1] Sedangkan menurut pendapat lain Radio adalah media elektronik tertua dan sangat luwes. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia yaitu dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media yang lain.[2]
Sedangkan menurut Ahmad Muhtadi Anshor media radio merupakan program siaran radio yang disalurkan dari pesawat pemancar, kemudian diterima oleh alat penerima radio untuk didengar oleh si penerima informasi.[3]
Sehingga kami dapat menyimpulkan bahwa radio merupakan salah satu media dalam pembelajaran istima’ yaitu dengan adanya pengiriman suara atau bunyi melalui udara kemudian diterima oleh alat penerima radio dan didengar oleh penerima informasi.
B.     Keistimewaan Radio
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, radio merupakan alat komunikasi massa yang memberikan berbagai informasi dan berita mengenai suatu peristiwa secara actual dan terbaru yang terjadi baik disekeliling kita maupun ditempat yang tidak terjangkau oleh kita. Karena radio mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap komunikasi massa, maka radio pun digunakan sebagai media dalam pembelajaran. Diantara kelebihan-kelebihan (keistemawaan) dari penggunaan media ini antara lain:
1.    Bersifat langsung, yakni pendengar bisa langsung mendengarkan informasi yang disiarkan. Detik itu kita bicara, pada detik itu juga pendengar bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan.
2.    Cepat, radio punya sifat cepat karena dia menggunakan ranah publik yakni frekuensi sebagai alat antar informasinya tidak seperti media cetak yang menggunakan kertas.
3.    Murah, maksudnya radio merupakan media komunikasi yang murah dibandingkan dengan media komunikasi-informasi lainnya. Radio cukup dengan sekali membangun stasiun yang bermodal rendah bisa dipakai bertahun-tahun, sedangkan media yang lain butuh ongkos produksi yang besar setiap menyampaikan informasi.
4.    Tanpa batas, radio punya karakter kekuatan seperti ini karena yang menjadi alat antar informasinya gelombang elektromagnetik yang bisa diakses atau didengarkan dimana saja dan kapan saja. Radio bisa didengarkan sambil mengerjakan pekerjaan yang lain, radio pun karena menggunakan audio atau suara memudahkan orang-orang yang tidak dapat membaca untuk mendapatkan informasi.[4]
Adapun menurut Umar Sidiq Abdullah dalam bukunya (Ta’lim Al Lughah Al Arabiyah Linnatiqin Bighairi Biha, 2008) juga memberikan pendapatnya tentang kelebihan dari media radio. Diantaranya:
1.    Melatih berbahasa siswa agar dapat mendengarkan dengan baik.
2.    Kapasitas pembelajaran mencakup seluruh siswa.
3.    Kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar (Theater of Mind).
4.    Kemampuan selektivitas memilih program dan segmen, semisal: pendidikan, ilmiah, seni, dll.
5.    Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.[5]
Selain itu, menurut Drs. Ahmad Muhtadi Ansor, M. Ag dalam bukunya (pengajaran Bahasa Arab media dan metode-metodenya, 2009) kelebihan dari media radio diantaranya:
1.    Menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan sebagainya.
2.    Siaran yang dapat menjangkau pendengar dalam waktu yang singkat.
3.    Otentik, siaran radio pendidikan dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya serta metode penyampaiannya.
4.    Dapat menyajikan pengalaman dunia luar ke dalam kelas.
5.    Realistis, maksudnya peristiwa atau kejadian yang disiarkan lebih riil dibandingkan dengan peristiwa atau kejadian yang sama.
6.    Siaran-siaran yang actual dapat memberikan suasana kesegaran pada sebagian besar topic.
7.    Mendorong orang tua peserta didik dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam persoalan pendidikan.[6]

C.     Kekurangan Radio
Tidak bisa dipungkiri juga, semua media-media ada sisi negative dan positifnya. Begitupun dengan radio, disamping kelebihan-kelebihan yang dimiliki media radio dalam pembelajaran bahasa arab, radio pun memiliki kelemahan-kelemahan. Menurut Ali Qasimi dan Muhamad Ali Sayid didalam karangannya (At taqniyat At tarbawiyah,) kelemahan media radio diantaranya:
1.    Pendidikan dalam radio dihasilkan dari sebuah pengalaman dan aplikasi ilmiah, jadi bukanlah hasil sebuah penelitian maupun study teori.
2.    Kurangnya interaksi antara siswa dan presenter program radio.
3.    Sulit bagi guru untuk mengontrol pembelajaran dalam radio dan sangat terikat dengan jadwal siaran.
4.    Tidak ada siswa yang dapat memusatkan perhatiannya dalam waktu yang lama untuk mendengarkan seluruh siaran materi.
5.    Sulit untuk mengikuti pelajaran jika mereka melewatkan episode atau Acara.[7]
Sedangkan menurut Drs. Ahmad Muhtadi Ansor, M. Ag dalam bukunya (Pengajaran Bahasa Arab media dan metode-metodenya, 2009) juga disebutkan kembali kekurangan dari media radio antara lain:
1.    Program radio tidak dapat mengkomunikasikan informasi secara visual, sehingga pesan atau informasi yang disampaikan akan sangat abstrak, sehingga kemungkinan dapat diserap juga sangat kecil.
2.    Konsentrasi bagi seorang untuk mendengarkan sangat terbatas sehingga tidak mungkin kita mengkomunikasikan materi yang agak banyak lewat media ini.[8]
Diantara kelemahan-kelemahan lainya:
1.    Isi pesan hanya dapat didengar saja sehingga bagi anak yang kurang mempunyai ingatan kuat akan mudah lupa dengan isi pesan.
2.    Tidak dapat diulang.
3.    Rentan terhadap cuaca.
4.    Abstrak, terutama berkaitan dengan angka, ukuran, penghitungan dll.[9]

D.    Prosedur yang disarankan dalam  menggunakan Radio
Menjadi tanggungjawab guru mendapatkan program radio pendidikan, banyak langkah penting sehingga dapat memanfaatkan mereka dalam pengajaran. Dan langkah-langkah yang dapat diringkas sebagaimana berikut:
1.    Kerjasama dengan departemen program pendidikan.
2.    Pengakuan program pendidikan melalui bulletin radio dan brosur yang dikeluarkan oleh pihak terkait.
3.    Kordinasi antara jadwal sekolah dan tanggal program.
4.    Mengetahui materi yang akan didengarkan siswa.
5.    Menyusun atau menyiapkan ruang kelas dengan segala cara untuk mudah mendengarkan dan mengikuti dengan baik.
6.    Mempersiapkan siswa untuk mendengarkan dengan mengingatkan mereka pada hubungan program yang ditetapkan akademik dan mengarahkan mereka ke ide pokok dari program.
7.    Menyediakan alat perekam untuk menyalin dan menyiarkan program radio, nanti jika diperlukan.
8.    Menunjukkan materi yang disampaikan untuk diskusi setelah selesai mendengarkan.
9.    Merangkum yang paling penting yang terkandung dalam program.
10.               Menugaskan siswa dalam kegiatan praktik.[10]

E.     Fungsi Radio
Adapun saluran (channel) yang terakhir dapat dilalui dengan mengekploitasi siaran pendidikan dalam pengajaran bahasa Arab untuk non Arab dengan bahasa yang lain. Yaitu unit radio sekolah (School Radio) yang mencari program dalam lingkup sekolah (lembaga pendidikan) yang bersangkutan. Radio sekolah berada pada beberapa lembaga dan guru bahasa Arab. Bahwa unit ini mempekerjakan baik sehingga mereka memiliki peran pendidikan aktif. Sudah tercatat dalam kitabnya Al Qosimi dan Sayid yang bernama “ Teknik Pendidikan Modern dalam Pengajaran Bahasa Arab Untuk Non Arab. Adapun fungsi radio sebagaimana berikut:
1.    Mengembangkan bakat siaran siswa.
2.    Mengembangkan selera program radio baru.
3.    Mengembangkan semangat komunitas melalui apa yang ditawarkan siswa (mahasiswa) dari beberapa contoh: program sastra, kuliah, seminar dan kompetisi.
4.    Membangun rasa komunitasdikalangan siswa (mahasiswa).
5.    Pelatihan pendengaran.
6.    Siswa (mahasiswa) dilatih pada pengucapan yang tepat dari suara dan kata.
7.    Mengembangkan semangat inovasi pada siswa.
8.    Siswa dilatih untuk berani retorika.
9.    Konfirmasi kepribadian para siswa.[11]

III.   PENUTUP
            Berdasarkan pemaparan yang telah disebutkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa radio merupakan media elektronik yang menggunakan gelombang elektromagnetik yang bisa memberikan informasi dan pesan secara cepat, langsung, dan actual. Banyak fungsi dari radio dalam pembelajaran, yang salah satunya menumbuhkan semangat pendengar tentang berbagai program yang ditawarkan. Yang hal ini bisa menjadikan pendengar tidak bosan dengan suasana pembelajaran yang ada dikelas. Jadi radio dapat memberikan kontribusi yang cukup besar sebagai media dalam pembelajaran bahasa arab. diantara kelebihan-kelebihannya antara lain murahnya radio yang sebagian besar orang memilikinya, serta banyaknya berbagai informasi dan pengetahuan yang kita dapat untuk dapat mengembangkan imajinasi. Dibalik kelebihan-kelebihan tersebut, sisi kelemahan dari radio salah satunya yaitu media yang satu arah yang tidak bisa diulang kembali. Jadi sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.
Demikian dari kami, kami sadar masih banyak kesalahan karena kurangnya literature tentang media pengajaran dalam maharah istima’, khususnya radio. Maka dari itu, kami mengharap pembaca dapat menemukan literature yang lebih relevan agar tidak ada kejanggalan dalam hati pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
‘Abdullah, ‘Umar Shodiq, Ta’lim al-Lughoh al-‘Arobiyah lighoiri al-Nathiqin bighoiriha, Al-JIzah: Al-Darul Al-‘Alimiyah linnasyri wattauzi’, 2008
Muhamad Ali Sayid, Ali Qasimi, At taqniyat At tarbawiyah, T.K: T.P, T.H
Muhtadi Anshar, Ahmad, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, Yogyakarta: SUKSES offset, 2009
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2008


[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2008 ), hlm.1130
[3] Ahmad Muhtadi Anshar, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, (Yogyakarta: SUKSES offset, 2009 ), hlm. 31
[5] ‘Umar Shodiq ‘Abdullah, Ta’lim al-Lughoh al-‘Arobiyah lighoiri al-Nathiqin bighoiriha, (Al-JIzah: Al-Darul Al-‘Alimiyah linnasyri wattauzi’, 2008), hlm. 160-161
[6] Ahmad Muhtadi Anshar, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, (Yogyakarta: SUKSES offset, 2009 ), hlm.32-33
[7] Ali Qasimi, Muhamad Ali Sayid, At taqniyat At tarbawiyah, (T.K: T.P, T.H),  hlm. 140
[8] Ahmad Muhtadi Anshar, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, (Yogyakarta: SUKSES offset, 2009 ), hlm.33
[10] ‘Umar Shodiq ‘Abdullah, Ta’lim al-Lughoh al-‘Arobiyah lighoiri al-Nathiqin bighoiriha, (Al-JIzah: Al-Darul Al-‘Alimiyah linnasyri wattauzi’, 2008), hlm. 163-164
[11] Ibid, hlm. 164-165

Rabu, 26 September 2012

penyakit hati




Dua Bentuk Penyakit Hati:

Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur’an.
 Allah berfirman, artinya:
 Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.
 Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
 Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya…
 Allah juga berfirman, artinya:
 Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya .

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.

Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati. *}. Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.