Kamis, 04 Oktober 2012

media radio


MEDIA DALAM PENGAJARAN ISTIMA’ “RADIO”
Oleh: Nasirotul Alawiyyah dan Nur’Azizah
I.     PENDAHULUAN
Hampir setiap pendidik mungkin pernah menemukan suasana kelas yang tidak kondusif untuk proses pembelajaran. Para peserta didik tidak merespon apa yang pendidik bawakan dan pendidik merasa kurang efektif berbicara di depan peserta didik karena pesrta didik tidak memperhatikan pendidik, ramai sendiri, main komputer dan kelas berubah menjadi gaduh. Jelas suasana begitu tidak akan mencapai tujuan pembelajaran seperti yang direncanakan. Kami pernah juga merasakannya. Rugi rasanya berbicara terus dalam Bahasa Arab, sedangkan mereka diam mendengarkan tetapi tidak memahami apa yang dibicarakan pendidik.
Maka dari itu, pendidik harus jeli menyikapi permasalahan yang sedang dialami oleh peserta didik, yaitu kejenuhan dan kesan monoton. Karena itu, pendidik harus mencari formula yang efektif dan inovatif untuk membangkitkan motifasi siswa dalam belajar berbahasa Arab. Adapun salah satu yang membangkitkan motifasi belajar peserta didik tersebut bisa dilakukan pendidik dengan melalui media, dan media tersebut yaitu media radio dalam pembelajaran istima’.
Melihat dari pemeparan tersebut sehingga dalam penulisan makalah ini kami memunculkan beberapa pokok permasalahan: pertama, pengertian radio. Kedua, keistimewaan radio. Ketiga, kekurangan radio. Keempat, prosedur yang disarankan dalam menngunakan radio. Dan kelima, fungsi radio.
II.  PEMBAHASAN

A.     Pengertian Radio
            Radio menurut kamus besar bahasa Indonesia adalah siaran (pengiriman) suara atau bunyi melalui udara.[1] Sedangkan menurut pendapat lain Radio adalah media elektronik tertua dan sangat luwes. Radio telah beradaptasi dengan perubahan dunia yaitu dengan mengembangkan hubungan saling menguntungkan dan melengkapi dengan media yang lain.[2]
Sedangkan menurut Ahmad Muhtadi Anshor media radio merupakan program siaran radio yang disalurkan dari pesawat pemancar, kemudian diterima oleh alat penerima radio untuk didengar oleh si penerima informasi.[3]
Sehingga kami dapat menyimpulkan bahwa radio merupakan salah satu media dalam pembelajaran istima’ yaitu dengan adanya pengiriman suara atau bunyi melalui udara kemudian diterima oleh alat penerima radio dan didengar oleh penerima informasi.
B.     Keistimewaan Radio
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, radio merupakan alat komunikasi massa yang memberikan berbagai informasi dan berita mengenai suatu peristiwa secara actual dan terbaru yang terjadi baik disekeliling kita maupun ditempat yang tidak terjangkau oleh kita. Karena radio mempunyai kontribusi yang cukup besar terhadap komunikasi massa, maka radio pun digunakan sebagai media dalam pembelajaran. Diantara kelebihan-kelebihan (keistemawaan) dari penggunaan media ini antara lain:
1.    Bersifat langsung, yakni pendengar bisa langsung mendengarkan informasi yang disiarkan. Detik itu kita bicara, pada detik itu juga pendengar bisa mendengarkan apa yang kita bicarakan.
2.    Cepat, radio punya sifat cepat karena dia menggunakan ranah publik yakni frekuensi sebagai alat antar informasinya tidak seperti media cetak yang menggunakan kertas.
3.    Murah, maksudnya radio merupakan media komunikasi yang murah dibandingkan dengan media komunikasi-informasi lainnya. Radio cukup dengan sekali membangun stasiun yang bermodal rendah bisa dipakai bertahun-tahun, sedangkan media yang lain butuh ongkos produksi yang besar setiap menyampaikan informasi.
4.    Tanpa batas, radio punya karakter kekuatan seperti ini karena yang menjadi alat antar informasinya gelombang elektromagnetik yang bisa diakses atau didengarkan dimana saja dan kapan saja. Radio bisa didengarkan sambil mengerjakan pekerjaan yang lain, radio pun karena menggunakan audio atau suara memudahkan orang-orang yang tidak dapat membaca untuk mendapatkan informasi.[4]
Adapun menurut Umar Sidiq Abdullah dalam bukunya (Ta’lim Al Lughah Al Arabiyah Linnatiqin Bighairi Biha, 2008) juga memberikan pendapatnya tentang kelebihan dari media radio. Diantaranya:
1.    Melatih berbahasa siswa agar dapat mendengarkan dengan baik.
2.    Kapasitas pembelajaran mencakup seluruh siswa.
3.    Kemampuan untuk mengembangkan imajinasi pendengar (Theater of Mind).
4.    Kemampuan selektivitas memilih program dan segmen, semisal: pendidikan, ilmiah, seni, dll.
5.    Dapat mengatasi keterbatasan ruang dan waktu.[5]
Selain itu, menurut Drs. Ahmad Muhtadi Ansor, M. Ag dalam bukunya (pengajaran Bahasa Arab media dan metode-metodenya, 2009) kelebihan dari media radio diantaranya:
1.    Menambah ilmu pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan sebagainya.
2.    Siaran yang dapat menjangkau pendengar dalam waktu yang singkat.
3.    Otentik, siaran radio pendidikan dilakukan oleh orang-orang yang ahli dalam bidangnya serta metode penyampaiannya.
4.    Dapat menyajikan pengalaman dunia luar ke dalam kelas.
5.    Realistis, maksudnya peristiwa atau kejadian yang disiarkan lebih riil dibandingkan dengan peristiwa atau kejadian yang sama.
6.    Siaran-siaran yang actual dapat memberikan suasana kesegaran pada sebagian besar topic.
7.    Mendorong orang tua peserta didik dan masyarakat untuk berpartisipasi dalam persoalan pendidikan.[6]

C.     Kekurangan Radio
Tidak bisa dipungkiri juga, semua media-media ada sisi negative dan positifnya. Begitupun dengan radio, disamping kelebihan-kelebihan yang dimiliki media radio dalam pembelajaran bahasa arab, radio pun memiliki kelemahan-kelemahan. Menurut Ali Qasimi dan Muhamad Ali Sayid didalam karangannya (At taqniyat At tarbawiyah,) kelemahan media radio diantaranya:
1.    Pendidikan dalam radio dihasilkan dari sebuah pengalaman dan aplikasi ilmiah, jadi bukanlah hasil sebuah penelitian maupun study teori.
2.    Kurangnya interaksi antara siswa dan presenter program radio.
3.    Sulit bagi guru untuk mengontrol pembelajaran dalam radio dan sangat terikat dengan jadwal siaran.
4.    Tidak ada siswa yang dapat memusatkan perhatiannya dalam waktu yang lama untuk mendengarkan seluruh siaran materi.
5.    Sulit untuk mengikuti pelajaran jika mereka melewatkan episode atau Acara.[7]
Sedangkan menurut Drs. Ahmad Muhtadi Ansor, M. Ag dalam bukunya (Pengajaran Bahasa Arab media dan metode-metodenya, 2009) juga disebutkan kembali kekurangan dari media radio antara lain:
1.    Program radio tidak dapat mengkomunikasikan informasi secara visual, sehingga pesan atau informasi yang disampaikan akan sangat abstrak, sehingga kemungkinan dapat diserap juga sangat kecil.
2.    Konsentrasi bagi seorang untuk mendengarkan sangat terbatas sehingga tidak mungkin kita mengkomunikasikan materi yang agak banyak lewat media ini.[8]
Diantara kelemahan-kelemahan lainya:
1.    Isi pesan hanya dapat didengar saja sehingga bagi anak yang kurang mempunyai ingatan kuat akan mudah lupa dengan isi pesan.
2.    Tidak dapat diulang.
3.    Rentan terhadap cuaca.
4.    Abstrak, terutama berkaitan dengan angka, ukuran, penghitungan dll.[9]

D.    Prosedur yang disarankan dalam  menggunakan Radio
Menjadi tanggungjawab guru mendapatkan program radio pendidikan, banyak langkah penting sehingga dapat memanfaatkan mereka dalam pengajaran. Dan langkah-langkah yang dapat diringkas sebagaimana berikut:
1.    Kerjasama dengan departemen program pendidikan.
2.    Pengakuan program pendidikan melalui bulletin radio dan brosur yang dikeluarkan oleh pihak terkait.
3.    Kordinasi antara jadwal sekolah dan tanggal program.
4.    Mengetahui materi yang akan didengarkan siswa.
5.    Menyusun atau menyiapkan ruang kelas dengan segala cara untuk mudah mendengarkan dan mengikuti dengan baik.
6.    Mempersiapkan siswa untuk mendengarkan dengan mengingatkan mereka pada hubungan program yang ditetapkan akademik dan mengarahkan mereka ke ide pokok dari program.
7.    Menyediakan alat perekam untuk menyalin dan menyiarkan program radio, nanti jika diperlukan.
8.    Menunjukkan materi yang disampaikan untuk diskusi setelah selesai mendengarkan.
9.    Merangkum yang paling penting yang terkandung dalam program.
10.               Menugaskan siswa dalam kegiatan praktik.[10]

E.     Fungsi Radio
Adapun saluran (channel) yang terakhir dapat dilalui dengan mengekploitasi siaran pendidikan dalam pengajaran bahasa Arab untuk non Arab dengan bahasa yang lain. Yaitu unit radio sekolah (School Radio) yang mencari program dalam lingkup sekolah (lembaga pendidikan) yang bersangkutan. Radio sekolah berada pada beberapa lembaga dan guru bahasa Arab. Bahwa unit ini mempekerjakan baik sehingga mereka memiliki peran pendidikan aktif. Sudah tercatat dalam kitabnya Al Qosimi dan Sayid yang bernama “ Teknik Pendidikan Modern dalam Pengajaran Bahasa Arab Untuk Non Arab. Adapun fungsi radio sebagaimana berikut:
1.    Mengembangkan bakat siaran siswa.
2.    Mengembangkan selera program radio baru.
3.    Mengembangkan semangat komunitas melalui apa yang ditawarkan siswa (mahasiswa) dari beberapa contoh: program sastra, kuliah, seminar dan kompetisi.
4.    Membangun rasa komunitasdikalangan siswa (mahasiswa).
5.    Pelatihan pendengaran.
6.    Siswa (mahasiswa) dilatih pada pengucapan yang tepat dari suara dan kata.
7.    Mengembangkan semangat inovasi pada siswa.
8.    Siswa dilatih untuk berani retorika.
9.    Konfirmasi kepribadian para siswa.[11]

III.   PENUTUP
            Berdasarkan pemaparan yang telah disebutkan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa radio merupakan media elektronik yang menggunakan gelombang elektromagnetik yang bisa memberikan informasi dan pesan secara cepat, langsung, dan actual. Banyak fungsi dari radio dalam pembelajaran, yang salah satunya menumbuhkan semangat pendengar tentang berbagai program yang ditawarkan. Yang hal ini bisa menjadikan pendengar tidak bosan dengan suasana pembelajaran yang ada dikelas. Jadi radio dapat memberikan kontribusi yang cukup besar sebagai media dalam pembelajaran bahasa arab. diantara kelebihan-kelebihannya antara lain murahnya radio yang sebagian besar orang memilikinya, serta banyaknya berbagai informasi dan pengetahuan yang kita dapat untuk dapat mengembangkan imajinasi. Dibalik kelebihan-kelebihan tersebut, sisi kelemahan dari radio salah satunya yaitu media yang satu arah yang tidak bisa diulang kembali. Jadi sangat membutuhkan konsentrasi tinggi.
Demikian dari kami, kami sadar masih banyak kesalahan karena kurangnya literature tentang media pengajaran dalam maharah istima’, khususnya radio. Maka dari itu, kami mengharap pembaca dapat menemukan literature yang lebih relevan agar tidak ada kejanggalan dalam hati pembaca.
DAFTAR PUSTAKA
‘Abdullah, ‘Umar Shodiq, Ta’lim al-Lughoh al-‘Arobiyah lighoiri al-Nathiqin bighoiriha, Al-JIzah: Al-Darul Al-‘Alimiyah linnasyri wattauzi’, 2008
Muhamad Ali Sayid, Ali Qasimi, At taqniyat At tarbawiyah, T.K: T.P, T.H
Muhtadi Anshar, Ahmad, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, Yogyakarta: SUKSES offset, 2009
Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Gramedia, 2008


[1] Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Gramedia, 2008 ), hlm.1130
[3] Ahmad Muhtadi Anshar, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, (Yogyakarta: SUKSES offset, 2009 ), hlm. 31
[5] ‘Umar Shodiq ‘Abdullah, Ta’lim al-Lughoh al-‘Arobiyah lighoiri al-Nathiqin bighoiriha, (Al-JIzah: Al-Darul Al-‘Alimiyah linnasyri wattauzi’, 2008), hlm. 160-161
[6] Ahmad Muhtadi Anshar, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, (Yogyakarta: SUKSES offset, 2009 ), hlm.32-33
[7] Ali Qasimi, Muhamad Ali Sayid, At taqniyat At tarbawiyah, (T.K: T.P, T.H),  hlm. 140
[8] Ahmad Muhtadi Anshar, Pengajaran Bahasa Arab Media & Metode-metodenya, (Yogyakarta: SUKSES offset, 2009 ), hlm.33
[10] ‘Umar Shodiq ‘Abdullah, Ta’lim al-Lughoh al-‘Arobiyah lighoiri al-Nathiqin bighoiriha, (Al-JIzah: Al-Darul Al-‘Alimiyah linnasyri wattauzi’, 2008), hlm. 163-164
[11] Ibid, hlm. 164-165

Rabu, 26 September 2012

penyakit hati




Dua Bentuk Penyakit Hati:

Penyakit hati itu ada dua macam: Penyakit syahwat dan penyakit syubhat. Keduanya tersebut dalam Al-Qur’an.
 Allah berfirman, artinya:
 Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya.
 Ini yang disebut penyakit syahwat.

Allah juga berfirman, artinya:
 Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya…
 Allah juga berfirman, artinya:
 Dan adapun orang yang didalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya .

Penyakit di sini adalah penyakit syubhat. Penyakit ini lebih parah daripada penyakit syahwat. Karena penyakit syahwat masih bisa diharapkan sembuh, bila syahwatnya sudah terlampiaskan. Sedangkan penyakit syubhat, tidak akan dapat sembuh, kalau Allah tidak menanggulanginya dengan limpahan rahmat-Nya.

Seringkali penyakit hati bertambah parah, namun pemiliknya tak juga menyadari. Karena ia tak sempat bahkan enggan mengetahui cara penyembuhan dan sebab-sebab penyakit tersebut. Bahkan terkadang hatinya sudah mati, pemiliknya belum juga sadar kalau sudah mati. Sebagai buktinya, ia sama sekali tidak merasa sakit akibat luka-luka dari berbagai perbuatan buruk. Ia juga tak merasa disusahkan dengan ketidak mengertian dirinya terhadap kebenaran, dan keyakinan-keyakinannya yang batil. Luka, tak akan dapat membuat sakit orang mati. *}. Terkadang ia juga merasakan sakitnya. Namun ia tak sanggup mencicipi dan menahan pahitnya obat. Masih bersarangnya penyakit tersebut di hatinya, berpengaruh semakin sulit dirinya menelan obat. Karena obatnya dengan melawan hawa nafsu. Itu hal yang paling berat bagi jiwanya. Namun baginya, tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat dari obat itu. Terkadang, ia memaksa dirinya untuk bersabar. Tapi kemudian tekadnya mengendor dan bisa meneruskannya lagi. Itu karena kelemahan ilmu, keyakinan dan ketabahan. Sebagai halnya orang yang memasuki jalan angker yang akhirnya akan membawa dia ke tempat yang aman. Ia sadar, kalau ia bersabar, rasa takut itu sirna dan berganti dengan rasa aman. Ia membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang kuat, yang dengan itu ia mampu berjalan. Kalau kesabaran dan keyakinannya mengendor, ia akan balik mundur dan tidak mampu menahan kesulitan. Apalagi kalau tidak ada teman, dan takut sendirian.

Bersabar terhadap istri
 Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَ عَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَ يَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
“Dan bergaullah kalian dgn mereka secara patut. Kemudian bila kalian tdk menyukai mereka krn mungkin kalian tdk menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan pada diri kebaikan yg banyak.”

Suami yg bijak adl orang yg mau menerima segala kekurangan yg ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tdk ada wanita yg sempurna yg bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci tercipta keharmonisan rumah tangga yg selayak dimiliki oleh tiap suami.

Pepatah mengatakan “tak ada gading yg tdk retak” tdk ada manusia yg sempurna. Kenyataan memang demikian siapapun dia selama dia disebut anak manusia entah wanita ataupun lelaki mesti ada kekurangan tdk ada yg sempurna dlm segala sisi. Memang ada manusia yg mempunyai banyak kelebihan namun jumlah mereka pun sedikit

keimanan


Di bawah bayangan dua lukisan yang menggambarkan contoh nifaq yang jahat dan contoh iman yang bersih ini, ayat-ayat yang berikut menyeru kaum Muslimin dengan sifat iman, iaitu sifat mereka yang dikenali umum supaya masuk ke dalam kedamaian dengan keseluruhan jiwa mereka, dan supaya berwaspada dan mengikut jejak syaitan serta mengingatkan mereka dari tergelincir setelah mereka mendapat penerangan yang jelas:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين

208. “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam kedamaian dengan keseluruhan jiwa kamu dan janganlah kamu menurut jejak syaitan-syaitan kerana sesungguhnya syaitan itu musuh kamu yang amat nyata.

MENGHAFAL AL QUR'AN




Di antara karakteristik Al Quran adalah: ia merupakan Kitab Suci yang dimudahkan
untuk dihapal dan diulang-ulang, dan ia juga dimudahkan untuk diingat dan fahami.
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang
yang mengambil pelajaran?.” (Al Qamar:17), dan ayat lainnya.
Karena dalam lafazh-lafazh Al Quran, redaksi-redaksinya, dan ayat-ayatnya
mengandung keindahan, kenikmatan dan kemudahan, sehingga mudah unuk dihapal bagi
orang yang ingin menghapalnya, menyimpan dalam hatinya, dan menjadikan hatinya
sebagai tempat Al Quran.
Dari sini, kita mendapati ribuan bahkan puluhan ribu kaum Muslimin yang
menghapal Al Quran, dan mayoritas dari mereka adalah anak-anak yang belum
menginjak usia baligh. Dalam usia yang masih kanak-anak itu, mereka tidak mengetahui
nilai kitab suci, juga apakah ia suci atau tidak, namun tetap saja Al Quran dihapal oleh
bilangan orang yang banyak itu.
Jika Anda meneliti perhatian orang-orang Kristen terhadap Kitab Suci mereka, kita
akan mendapatkan tidak seorangpun yang hapal isinya, tidak setengahnya, atau
seperempatnya, dari kalangan orang-orang yang beriman dengan kitab itu, hingga para
rahib, pendeta, uskup dan kardinal sekalipun tidak hapal kitab suci mereka.
Sementara dengan Al Quran, kita mendapatkan banyak non-Arab yang hapalannya
amat bagus: seperti saudara-saudara kita dari India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan,
Turki, Senegal dan Muslim Asia-Afrika lainnya, padahal mereka tidak memahami bahasa
Arab. Kami pernah menguji mereka dalam musabaqah-musabaqah menghapal Al Quran
di negeri Qathar, dan aku dapati salah seorang mereka ada yang menghapal demikian
bagusnya sehingga seperti sebuah kaset rekaman Al Quran, yang tidak melupakan satu
huruf-pun dari Al Quran, atau satu kata darinya, namun demikian, saat kami tanya dia
(dengan bahasa Arab): siapa nama Anda? Ia tidak dapat menjawab! Karena ia tidak
memahami bahasa Arab.
Ini semua adalah perwujudan dari firman Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benarbenar
memeliharanya.” (Al Hijr: 9).
Allah SWT telah menjamin pemeliharaan Al Quran ini dengan ungkapan yang tegas itu1,
dan diantara perangkat untuk memeliharanya adalah: menyiapkan orang yang
menghapalnya, dari satu generasi ke generasi lainnya.
Kami telah menghapal Al Quran dengan baik saat belum lagi menginjak usia
sepuluh tahun, dan mungkin kami dapat menghapalnya pada usia yang lebih muda lagi.
Kami dapati di Bangladesh seorang anak-anak yang telah hapal Al Quran saat ia
berusia sembilan tahun. Saat kami mencoba hapalannya, kami dapati hapalannya amat
bagus.
Kami mendapati di Mesir anak yang telah hapal Al Quran saat ia berusia tujuh
tahun, seperti kami saksikan dalam musabaqah tahfizh Al Quran. Dan salah seorang2
1Penegasan itu tampak dalam penggunaan jumlah ismiyyah (redaksional dengan kata benda) dan dalam
kata “inna” serta lam dalam khabar “lahaafizhuun”.
darinya datang ke Qathar, dan kemudian diterima dengan hormat oleh menteri
Pendidikan Qathar beberapa tahun yang lalu. Dan kami melihat seorang anak pada usia
yang sama telah menghapal Al Quran dan membacanya dengan baik, dari sebuah
kampung dekat kampung asalku di Mesir, yaitu Sajin al Kaum3.
Kami temukan sebagian pendidik kontemporer yang mengkritik kegiatan
menghapal Al Quran pada saat kanak-kanak, karena ia menghapalnya tanpa pemahaman,
dan manusia tidak seharusnya menghapal apa yang tidak ia fahami.
Namun kaidah ini tidak boleh diaplikasikan bagi Al Quran, karena tidak mengapa
seorang anak menghapal Al Quran pada masa kanak-kanak untuk kemudian
memahaminya pada saat dewasa. Karena menghapal pada saat kanak-kanak seperti
memahat di atas batu, seperti dikatakan seoarang bijaksana pada masa lalu. Dan saat ada
yang mengatakan: orang yang dewasa lebih matang akalnya! Ada yang menjawab:
namun ia lebih banyak kesibukannya!
Kami telah menghapal Al Quran dan menyimpannya dalam hati semenjak masa
kanak-kanak itu, kemudian Allah SWT memberikan manfaat kepada kami saat dewasa.
Di antara keistimewaan Al Quran adalah: ia merupakan kitab yang dijelaskan dan
dimudahkan untuk dihapal, seperti kami telah jelaskan dalam karakteristikkarakteristiknya.
Oleh karena ia dipahami –secara global—oleh yang kecil dan yang
besar, yang tidak berpendidikan maupun yang berpendidikan, dan setiap orang
mengambil pemahaman darinya sesuai dengan kemampuannya.
Kami perlu sebut di sini –saat kami belajar di al Kuttab (madrasah penghapal Al
Quran)— kami pernah membaca kisah-kisah Al Quran dan nasehat-nasehatnya, dan kami
mengetahui ibrah umum dari kisah-kisah itu, meskipun kami tidak mencapai maknamakna
yang dalam yang terkandung dalam redaksi Al Quran, hukum-hukumnya dan
semacamnya.
Kejadian yang lain adalah saat kami mengulang hapalan surah Ash Shaaffaat
kepada syeikh Kuttab kami yaitu Syaikh Hamid. Dalam surah itu terdapat banyak kisah
para Rasul, dan di antaranya adalah kisah Nabi Luth a.s. dan kaumnya yang dihancurkan
oleh Allah SWT dan dibinasakan dengan azab-Nya. Tentang mereka Allah SWT
berfirman:
“Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul. (Ingatlah) ketika Kami selamatkan
dia dan keluarganya (pengikut-pengikutnya) semua, kecuali seorang perempuan tua
(isterinya yang berada) bersama-sama orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan
orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan
melalui (bekas-bekas) mereka di waktu pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kamu
tidak memikirkan?.” ( Ash Shaaffaat: 133-138).
Kami membaca dua ayat yang terakhir itu seperti ini:
.“ وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ( 137 )وَبِاللَّيْلِ
2 Yaitu siswa Badri Abu Zaid dari propinsi Asyuth.
3 Beberapa bulan yang lalu ada seorang anak dari Iran –yang baru berumur tujuh tahun— yang menjadi
fenomena dalam menghapal Al Quran al Karim. Yaitu As Sayyid Muhammad Husain Ath Thababai. Ia
telah mengunjungi Qathar pada bulan Muharram tahun 1419 H (Mei 1998 M). Ia menampilkan hapalannya
dan pemahamannya terhadap Al Quran dengan mencengangkan semua orang. Ia telah mengunjungiku
bersama orang tuanya disertai duta besar Iran di Doha, aku kemudian menguji hapalan dan
pemahamannya, ternyata memang betul mengagumkan.
Dengan menyambung kata “ مُصْبِحِينَ وَبِاللَّيْلِ “, dan tidak berhenti pada ujung ayat,
kemudian kami membaca: “ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “. Mendengar itu, Syeikh Hamid berkomentar:
Allah yaftah `alaik! (Allah membuka pemahaman engkau!) Syeikh itu mengetahui kami
telah memahami makna ayat itu: “
Kami dapati sebagian saudara kita yang beragama Kristen yang dengan serius
berusha menghapal Al Quran atau banyak juz dari Al Quran, dan agar anak-anaknya juga
menghapalnya pada usia kanak-kanak mereka. Seperti diceritakan sendiri oleh Dr.
Nazhmi Lukas, seorang sastrawan Koptik Mesir, tentang dirinya, dalam pembukaan
bukunya yang terkenal “Muhammad: Risalah dan Rasul”. Ia menceritakan bagaimana
bapaknya mengirimnya kepada salah seorang syaikh yang buta dan amat baik hapalannya
di kota Suez, kemudian bapaknya meminta syeikh itu untuk mengajarkan anaknya
menghapal Al Quran, dan dasar-dasarnya. Dan iapun melaksanakannya.
Pemimpin politik Koptik Mesir yang terkenal Makram Ubeid menghapal Al Quran
dalam jumlah banyak, dan ia dengan lincah mengutip dari Al Quran dalam pidatopidatonya,
dalam artikel-artikelnya, dalam pembelaannya di persidangan, dan kata-kata
Al Quran yang ia gunakan itu memberikan keindahan dalam ucapan-ucapannya, dan
memberika kekuatan yang tidak dapat diberikan oleh sumber lainnya selain Al Quran.
Diantara manfaat menghapal Al Quran pada masa kanak-kanak adalah: meluruskan
lidah, membaca huruf dengan tepat, dan mengucapkannya sesuai denan makhraj
hurufnya, dan tidak mengalami seperti dialami oleh orang awam dan sayangnya sebagian
pendidik, yang kurang fasih dalam membaca huruf jim, dan tidak mengeluarkan lidah
saat membaca huruf tsa, dzal, zha dan lainnya, tidak menebalkan huruf-huruf izh-har
yang terkenal dalam kha, shad, dhadh, tha, zha, ghain, dan qaf, kapan harus menebalkan
huruf raa dan kapan menipiskannya, juga seperti huruf lam dalam kata Allah,
kaditebalkan, dan kapan ditipiskan. Dan semacamnya dari bermacam-macam hal yang
biasa kita lakukan, sehingga membuat lidah kami lembut dari semenjak kanak-kanak,
akibat menghapal Al Quran dan membacanya dengan baik, sehingga akhirnya itu menjadi
tabi`at kami yang kedua.

Minggu, 09 September 2012

abcd


kala ku gundah
kala ku sedih
kala tiada yang menemani disetiap hari-hari sepi
kala seolah tiada harapan
tidalah hal yang lebih indah saat kita mensyukuri segala apa yang tlah kita punya