Rabu, 26 September 2012
Bersabar terhadap istri
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَ عَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ فَإِنْ كَرِهْتُمُوهُنَّ فَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوْا شَيْئًا وَ يَجْعَلَ اللهُ فِيْهِ خَيْرًا كَثِيْرًا
“Dan bergaullah kalian dgn mereka secara patut. Kemudian bila kalian tdk menyukai mereka krn mungkin kalian tdk menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan pada diri kebaikan yg banyak.”
Suami yg bijak adl orang yg mau menerima segala kekurangan yg ada pada istrinya. Ia menyadari bahwa tdk ada wanita yg sempurna yg bisa memenuhi semua harapannya. Inilah salah satu kunci tercipta keharmonisan rumah tangga yg selayak dimiliki oleh tiap suami.
Pepatah mengatakan “tak ada gading yg tdk retak” tdk ada manusia yg sempurna. Kenyataan memang demikian siapapun dia selama dia disebut anak manusia entah wanita ataupun lelaki mesti ada kekurangan tdk ada yg sempurna dlm segala sisi. Memang ada manusia yg mempunyai banyak kelebihan namun jumlah mereka pun sedikit
keimanan
Di bawah bayangan dua lukisan yang
menggambarkan contoh nifaq yang jahat dan contoh iman yang bersih ini,
ayat-ayat yang berikut menyeru kaum Muslimin dengan sifat iman, iaitu sifat
mereka yang dikenali umum supaya masuk ke dalam kedamaian dengan keseluruhan
jiwa mereka, dan supaya berwaspada dan mengikut jejak syaitan serta
mengingatkan mereka dari tergelincir setelah mereka mendapat penerangan yang
jelas:
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِين
208. “Wahai orang-orang yang beriman!
Masuklah ke dalam kedamaian dengan keseluruhan jiwa kamu dan janganlah kamu menurut jejak
syaitan-syaitan kerana sesungguhnya syaitan itu musuh kamu yang amat nyata.
MENGHAFAL AL QUR'AN
Di antara karakteristik Al Quran
adalah: ia merupakan Kitab Suci yang dimudahkan
untuk dihapal dan diulang-ulang, dan ia
juga dimudahkan untuk diingat dan fahami.
“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan
Al Qur'an untuk pelajaran, maka adakah orang
yang mengambil pelajaran?.” (Al
Qamar:17), dan ayat lainnya.
Karena dalam lafazh-lafazh Al Quran,
redaksi-redaksinya, dan ayat-ayatnya
mengandung keindahan, kenikmatan dan
kemudahan, sehingga mudah unuk dihapal bagi
orang yang ingin menghapalnya,
menyimpan dalam hatinya, dan menjadikan hatinya
sebagai tempat Al Quran.
Dari sini, kita mendapati ribuan bahkan
puluhan ribu kaum Muslimin yang
menghapal Al Quran, dan mayoritas dari
mereka adalah anak-anak yang belum
menginjak usia baligh. Dalam usia yang
masih kanak-anak itu, mereka tidak mengetahui
nilai kitab suci, juga apakah ia suci
atau tidak, namun tetap saja Al Quran dihapal oleh
bilangan orang yang banyak itu.
Jika Anda meneliti perhatian
orang-orang Kristen terhadap Kitab Suci mereka, kita
akan mendapatkan tidak seorangpun yang
hapal isinya, tidak setengahnya, atau
seperempatnya, dari kalangan
orang-orang yang beriman dengan kitab itu, hingga para
rahib, pendeta, uskup dan kardinal
sekalipun tidak hapal kitab suci mereka.
Sementara dengan Al Quran, kita
mendapatkan banyak non-Arab yang hapalannya
amat bagus: seperti saudara-saudara
kita dari India, Pakistan, Bangladesh, Afghanistan,
Turki, Senegal dan Muslim Asia-Afrika
lainnya, padahal mereka tidak memahami bahasa
Arab. Kami pernah menguji mereka dalam
musabaqah-musabaqah menghapal Al Quran
di negeri Qathar, dan aku dapati salah
seorang mereka ada yang menghapal demikian
bagusnya sehingga seperti sebuah kaset
rekaman Al Quran, yang tidak melupakan satu
huruf-pun dari Al Quran, atau satu kata
darinya, namun demikian, saat kami tanya dia
(dengan bahasa Arab): siapa nama Anda?
Ia tidak dapat menjawab! Karena ia tidak
memahami bahasa Arab.
Ini semua adalah perwujudan dari firman
Allah SWT:
“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan
Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benarbenar
memeliharanya.” (Al Hijr: 9).
Allah SWT telah menjamin pemeliharaan
Al Quran ini dengan ungkapan yang tegas itu1,
dan diantara perangkat untuk
memeliharanya adalah: menyiapkan orang yang
menghapalnya, dari satu generasi ke
generasi lainnya.
Kami telah menghapal Al Quran dengan
baik saat belum lagi menginjak usia
sepuluh tahun, dan mungkin kami dapat
menghapalnya pada usia yang lebih muda lagi.
Kami dapati di Bangladesh seorang
anak-anak yang telah hapal Al Quran saat ia
berusia sembilan tahun. Saat kami
mencoba hapalannya, kami dapati hapalannya amat
bagus.
Kami mendapati di Mesir anak yang telah
hapal Al Quran saat ia berusia tujuh
tahun, seperti kami saksikan dalam
musabaqah tahfizh Al Quran. Dan salah seorang2
1Penegasan itu tampak dalam penggunaan jumlah ismiyyah
(redaksional dengan kata benda) dan dalam
kata “inna” serta lam dalam khabar
“lahaafizhuun”.
darinya datang ke Qathar, dan kemudian
diterima dengan hormat oleh menteri
Pendidikan Qathar beberapa tahun yang
lalu. Dan kami melihat seorang anak pada usia
yang sama telah menghapal Al Quran dan
membacanya dengan baik, dari sebuah
kampung dekat kampung asalku di Mesir,
yaitu Sajin al Kaum3.
Kami temukan sebagian pendidik
kontemporer yang mengkritik kegiatan
menghapal Al Quran pada saat
kanak-kanak, karena ia menghapalnya tanpa pemahaman,
dan manusia tidak seharusnya menghapal
apa yang tidak ia fahami.
Namun kaidah ini tidak boleh
diaplikasikan bagi Al Quran, karena tidak mengapa
seorang anak menghapal Al Quran pada
masa kanak-kanak untuk kemudian
memahaminya pada saat dewasa. Karena
menghapal pada saat kanak-kanak seperti
memahat di atas batu, seperti dikatakan
seoarang bijaksana pada masa lalu. Dan saat ada
yang mengatakan: orang yang dewasa
lebih matang akalnya! Ada yang menjawab:
namun ia lebih banyak kesibukannya!
Kami telah menghapal Al Quran dan
menyimpannya dalam hati semenjak masa
kanak-kanak itu, kemudian Allah SWT
memberikan manfaat kepada kami saat dewasa.
Di antara keistimewaan Al Quran adalah:
ia merupakan kitab yang dijelaskan dan
dimudahkan untuk dihapal, seperti kami
telah jelaskan dalam karakteristikkarakteristiknya.
Oleh karena ia dipahami –secara
global—oleh yang kecil dan yang
besar, yang tidak berpendidikan maupun
yang berpendidikan, dan setiap orang
mengambil pemahaman darinya sesuai
dengan kemampuannya.
Kami perlu sebut di sini –saat kami
belajar di al Kuttab (madrasah penghapal Al
Quran)— kami pernah membaca kisah-kisah
Al Quran dan nasehat-nasehatnya, dan kami
mengetahui ibrah umum dari kisah-kisah
itu, meskipun kami tidak mencapai maknamakna
yang dalam yang terkandung dalam
redaksi Al Quran, hukum-hukumnya dan
semacamnya.
Kejadian yang lain adalah saat kami
mengulang hapalan surah Ash Shaaffaat
kepada syeikh Kuttab kami yaitu Syaikh
Hamid. Dalam surah itu terdapat banyak kisah
para Rasul, dan di antaranya adalah
kisah Nabi Luth a.s. dan kaumnya yang dihancurkan
oleh Allah SWT dan dibinasakan dengan
azab-Nya. Tentang mereka Allah SWT
berfirman:
“Sesungguhnya Luth benar-benar salah
seorang rasul. (Ingatlah) ketika Kami selamatkan
dia dan keluarganya
(pengikut-pengikutnya) semua, kecuali seorang perempuan tua
(isterinya yang berada) bersama-sama
orang yang tinggal. Kemudian Kami binasakan
orang-orang yang lain. Dan sesungguhnya
kamu (hai penduduk Mekah) benar-benar akan
melalui (bekas-bekas) mereka di waktu
pagi, dan di waktu malam. Maka apakah kamu
tidak memikirkan?.” ( Ash Shaaffaat:
133-138).
Kami membaca dua ayat yang terakhir itu
seperti ini:
.“ وَإِنَّكُمْ لَتَمُرُّونَ عَلَيْهِمْ مُصْبِحِينَ( 137 )وَبِاللَّيْلِ“
2 Yaitu siswa Badri Abu Zaid dari propinsi Asyuth.
3 Beberapa bulan yang lalu ada seorang anak dari Iran –yang
baru berumur tujuh tahun— yang menjadi
fenomena dalam menghapal Al Quran al
Karim. Yaitu As Sayyid Muhammad Husain Ath Thababai. Ia
telah mengunjungi Qathar pada bulan
Muharram tahun 1419 H (Mei 1998 M). Ia menampilkan hapalannya
dan pemahamannya terhadap Al Quran
dengan mencengangkan semua orang. Ia telah mengunjungiku
bersama orang tuanya disertai duta
besar Iran di Doha, aku kemudian menguji hapalan dan
pemahamannya, ternyata memang betul
mengagumkan.
Dengan menyambung kata “ مُصْبِحِينَ وَبِاللَّيْلِ “, dan tidak
berhenti pada ujung ayat,
kemudian kami membaca: “ أَفَلَا تَعْقِلُونَ “. Mendengar itu,
Syeikh Hamid berkomentar:
Allah yaftah `alaik! (Allah membuka
pemahaman engkau!) Syeikh itu mengetahui kami
telah memahami makna ayat itu: “
Kami dapati sebagian saudara kita yang
beragama Kristen yang dengan serius
berusha menghapal Al Quran atau banyak
juz dari Al Quran, dan agar anak-anaknya juga
menghapalnya pada usia kanak-kanak
mereka. Seperti diceritakan sendiri oleh Dr.
Nazhmi Lukas, seorang sastrawan Koptik
Mesir, tentang dirinya, dalam pembukaan
bukunya yang terkenal “Muhammad:
Risalah dan Rasul”. Ia menceritakan bagaimana
bapaknya mengirimnya kepada salah
seorang syaikh yang buta dan amat baik hapalannya
di kota Suez, kemudian bapaknya meminta
syeikh itu untuk mengajarkan anaknya
menghapal Al Quran, dan dasar-dasarnya.
Dan iapun melaksanakannya.
Pemimpin politik Koptik Mesir yang
terkenal Makram Ubeid menghapal Al Quran
dalam jumlah banyak, dan ia dengan
lincah mengutip dari Al Quran dalam pidatopidatonya,
dalam artikel-artikelnya, dalam
pembelaannya di persidangan, dan kata-kata
Al Quran yang ia gunakan itu memberikan
keindahan dalam ucapan-ucapannya, dan
memberika kekuatan yang tidak dapat
diberikan oleh sumber lainnya selain Al Quran.
Diantara manfaat menghapal Al Quran
pada masa kanak-kanak adalah: meluruskan
lidah, membaca huruf dengan tepat, dan
mengucapkannya sesuai denan makhraj
hurufnya, dan tidak mengalami seperti
dialami oleh orang awam dan sayangnya sebagian
pendidik, yang kurang fasih dalam
membaca huruf jim, dan tidak mengeluarkan lidah
saat membaca huruf tsa, dzal, zha dan
lainnya, tidak menebalkan huruf-huruf izh-har
yang terkenal dalam kha, shad, dhadh,
tha, zha, ghain, dan qaf, kapan harus menebalkan
huruf raa dan kapan menipiskannya, juga
seperti huruf lam dalam kata Allah,
kaditebalkan, dan kapan ditipiskan. Dan
semacamnya dari bermacam-macam hal yang
biasa kita lakukan, sehingga membuat
lidah kami lembut dari semenjak kanak-kanak,
akibat menghapal Al Quran dan
membacanya dengan baik, sehingga akhirnya itu menjadi
tabi`at kami yang kedua.
Minggu, 09 September 2012
abcd
kala ku gundah
kala ku sedih
kala tiada yang menemani disetiap hari-hari sepi
kala seolah tiada harapan
tidalah hal yang lebih indah saat kita mensyukuri segala apa yang tlah kita punya
Senin, 09 Juli 2012
Senin, 02 Juli 2012

Ibu-lah
yang mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan dahysat untuk kita, ibu melatih kita
berjalan, mengajari kita cara makan, dan bermain, menggoda kita agar tertawa.
Ibu tak pernah dapat membiarkan anaknya sedih ketika apa yang diinginkan anaknya tak dipenuhi. Ibu selalu mencari berbagai cara
untuk membujuk kita.
Pernahkah kita tau, dibalik
tertawa kita, kebahagiaan kita, ada air mata ibu yang menetes. Kita tak pernah
tau, ketika ibu menangis.. ibu sakit, ibu sedih ... Ibu rela tak makan, ibu
rela tak minum, ketika saat itu kekurangan makanan.. semua dipersembahkan untuk
kita. Kita juga tak pernah tau, ibu punya uang atau tidak, dan ketika itu kita
meminta mainan ini dan itu, namun apa yang dilakukan ibu. Ibu mencari berbagai
cara untuk memenuhi keinginan kita.
Betapa
besar kasih sayang ibu yang tak pernah dapat kita menghitungnya, ibu tak pernah
meminta apa-apa ketika kita sukses, cukup melihat anaknya bahagia, melihat
anaknya tersenyum suka cita. Ibu ikhlas memberikan kasih sayangnya sampai kita
dewasa. Dan ibu selalu memaafkan kedurhakaan kita, kadang kita menyakiti ibu,
membantah ibu, tidak nurut sama ibu .. tetapi ibu tak pernah mendo'akan anaknya
celaka. Ibu selalu mengampuni kedurhakaan kita.
Ingatlah masa-masa kita yang lalu, Sungguh indah
sekali, mengingat ibu ketika kita jauh dari pelukannya, indah sekali mengingat
kebersamaan kita dengan ibu sewaktu kecil. Kita digendong, ditimang, disapih,
dimanjain, dibelikan ini dan itu, untuk membuat kita bahagia. Bagi yang kini
tiada lagi melihat wajah ibu tercinta, bagi yang sekarang hanya dapat melihat
bayangan ibu nan jauh disana, tetap berdo'alah untuk beliau. Berdo'a untuk
keselamatan beliau serta berdo'a agar kita semua
dapat berjumpa dengan ibu suatu saat nanti. Amiin
Bagi yang saat ini masih hidup bersama
Ibu, berbaktilah, buatlah beliau bahagia. Bagi yang merasakan ibu anda jahat
dan kejam, ingatlah dan dengarkan ini baik-baik, tetap berbuat baiklah
kepadanya, sekejam-kejamnya ibu, sejahat-jahatnya ibu, didalam hatinya hanya
ada kamu yang disayang. Tak pernah kita tau, ibu selalu menyesali perbuatannya
ketika menyakiti anaknya, setiap malam, setiap sujud selalu mendo'akanmu
WaktU
tAk dApat muNdur.....tRuslAh berlAri mengejAr impIan yg pAsti,bangUn jiWa untuK
bisA mandiri hari Esok jElang dgn seseOrang yg mau mengerTi berbAgi dan saling
mengHargai saling mengingAtkan kesalahan diri agAr tidak meRasa diri ini Paling
Benar dan tentang Takwa BiarlAh Allah SWT yg MenilAi, baik atau bUruknYa Hati
Manusia........ Hanya Allah SWT yg Tau...........sapapun anda jnglah menghinA
atau merendAhkn orng lain krna di MAta Allah SWT mungkin dia lbih mulia
dibanding kitA........
psikologi perkembangan
Psikologi
Perkembangan
Smart Babies
PBA 3
(10.11.00201)
Memang
pendidikan bagi anak bayi sangat penting dalam meningkatkan potensi
intelektualnya. karena sebagai rangsangan awal bagi anak untuk mempercepat
jumlah synapsesnya. Yang dengan itu bisa memajukan potensi, kemampuan serta
kecerdasannya. Namun, institute yang didirikan oleh Glenn Dolman Better Baby
di Philadephia tentang bagaimana menciptakan bayi pintar (smart baby) itu bagi
saya kurang setuju, karena terlalu memaksa, menekan dan menyia-nyiakan masa
kecil. Karena biar bagaimanapun proses belajar bagi anak (meningkatkan potensi
intelegence) itu bertahap sesuai dengan pola-pola tingkatannya. Maksudnya ada
tahap-tahap tersendiri bagaimana memperoleh potensi kecerdasan, Meskipun seperti kita ketahui setiap anak mempunyai
tempo (kecepatan) perkembangan yang
berbeda-beda.
Jadi bagi saya kita tidak perlu memberikan
rangsangan yang terlalu cepat pada bayi seperti apa yang dilakukan dalam kursus
Dolman tersebut. Seperti dengan mengajari bayi membaca, belajar
matematika, belajar bahasa asing dll, maupun dengan memberikan alternative
rangsangan lain dengan memberikan music, gambar, video, CD, dll yang bisa
mengembangkan synapses bayi. walaupun
kita ketahui bahwa puncak pertumbuhan synapses pada bayi dimulai sejak bayi
baru lahir sampai berumur 5 tahun.
Periode
kritis dimana puncak perkembangan synapses memang sangat berlaku, namun hanya
sebagai system mendasar saja dalam belajar, berbicara, melihat, berjalan, membedakan
suara bahasa dll untuk mengenali dunia sekelilingnya. Yang itu akan cepat
dilupakan karena pada masa tersebut tidak berlaku untuk perkembangan kognisi
dan ingatan,yang mana hal-hal tersebut bisa dilakukan pada usia berapa saja. Dan
berdasarkan riset yang dilakukan oleh ilmuan ilmu otak, pada kehidupan
mendatang synapses lebih sedikit ditunjukan, melainkan kecerdasanlah yang lebih
banyak ditunjukan. Karena semakin bertambah usia, maka semakin sedikit hubungan
synapsesnya (ketebalan synapsesnya), dan semakin banyak synapses tidak berarti
lebih cerdas. Karena masa yang disebut masa kritis itu ternyata tidak bisa
menambah tingkat IQ.
Jadi, proses belajar pada bayi
biarlah berjalan semestinya. Mengajari bayi bagaimana memahami lingkungannya
serta apa yang dibutuhkan bayi pada saat itu. Tidak perlu terobsesi untuk
memiliki bayi cerdas, maupun memberikan pendidikan intensif awal dengan
memberikan rangsangan-rangsangan awal kepada bayi. Karena bayi bisa belajar sendiri
dengan caranya sendiri (yaitu dengan bermain). Yang dapat kita lakukan yaitu
dengan menyediakan layanan lingkungan yang mendukung untuk belajar bayi. Karena
lingkungan yang penuh kegiatan (mainan) juga bisa memberikan rangsangan
terhadap otak. Dan proses belajar merupakan proses seumur hidup, dimana
sepanjang hidupnya otak selalu menghasilkan sel-sel baru. Jadi, tidak ada kata
telat untuk belajar. Berapapun usianya, otak masih tetap bekerja.
Langganan:
Postingan (Atom)



